Maka, pesan Haji Wada tentang Dajjal adalah seruan untuk menjaga mata hati.
Oleh: Salas Aly Temur (
( 9 Zulhijjah 1447).
Haji Wada merupakan momen puncak perjalanan kenabian Muhammad SAW. Di Padang Arafah, di tengah ribuan sahabat yang berhimpun, Rasulullah menyampaikan khutbah perpisahan yang mengguncang jiwa. Namun di balik pesan-pesan moral tentang keadilan, hak-hak perempuan, dan persaudaraan, terdapat satu seruan yang kerap luput dari perhatian mendalam: kewaspadaan terhadap Dajjal. Dalam riwayat Bukhari, Nabi SAW di Padang Arafah dengan tegas mengingatkan umatnya tentang bahaya besar di akhir zaman yang berpusat pada sosok Al-Masih Dajjal. Tulisan ini akan mengupas hakikat Dajjal sebagai algoritma kejahatan sempurna, makna kiasan dari "buta satu mata", serta keterkaitannya dengan Yajuj Makjuj dan Yerusalem sebagaimana diuraikan dalam tradisi Islam.
*Dajjal dalam Perspektif Agama Abrahamik: Dari Alegori Menuju Penjelasan Nyata*
Diksi "Dajjal" sejatinya bukanlah istilah asing saat Rasulullah SAW diutus. Kaum Yahudi dan Nasrani—yang kemudian disebut sebagai Ahli Kitab—telah lama mengenal konsep tentang tokoh penyesat di akhir zaman. Namun demikian, penjelasan tentang Dajjal dalam tradisi agama Abrahamik sebelumnya meninggalkan kesamaran yang penuh alegoris. Sosok ini sering digambarkan secara metaforis, sehingga sulit dipahami secara utuh oleh masyarakat awam.
Untuk itulah Rasulullah SAW dalam khutbah Haji Wada di Lembah Urainah Arafah menyampaikan penjelasan tentang Dajjal yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya. Sebagaimana tergambar dalam HR Bukhari 4051, Nabi memberikan perincian yang lebih konkret dan membuka tabir kesamaran tersebut. Ini menjadi rahmat tersendiri bagi umat Islam agar tidak terjebak dalam pemahaman yang kabur tentang fitnah terbesar sepanjang sejarah manusia.
*Poin-Poin Penting Pesan Rasulullah tentang Dajjal Dari Arafah*
Setidaknya ada beberapa poin kunci yang diketengahkan Rasulullah SAW dalam berbagai riwayat tentang Dajjal:
Pertama, Dajjal bukanlah fenomena yang tiba-tiba muncul di akhir zaman, melainkan telah ada sejak para nabi terdahulu. Setiap nabi mengingatkan umatnya tentang bahayanya. Ini menunjukkan bahwa ancaman Dajjal bersifat lintas zaman, mengakar sejak awal peradaban manusia.
Kedua, yang mengejutkan, Rasulullah menegaskan bahwa Dajjal sebenarnya tampak terang benderang—hanya saja manusia seringkali tidak mampu menangkapnya. Ini adalah peringatan keras bahwa bahaya Dajjal bersifat halus dan transparan, namun justru karena "terang"-nya, ia menjadi tidak terdeteksi oleh mata hati yang sudah tumpul.
Ketiga, Dajjal akan berperilaku seperti Tuhan. Ia membajak peran Tuhan sebagai sumber nilai, sehingga ia akan menawarkan nilai-nilai baru yang tampak menarik untuk diikuti. Ini adalah ciri paling khas dari sistem kejahatan yang sempurna: ia tidak memaksa dengan kekerasan semata, melainkan membujuk dengan janji-janji kemudahan, kesenangan, dan "kebenaran" versi dirinya.
Keempat, dan yang paling penting untuk dicermati, adalah pernyataan bahwa Dajjal buta pada salah satu matanya. Namun Rasulullah mengkaitkan hal ini dengan sosok pemuda bernama Abu Uzza ibnu Qothon—yang secara fisik tidak buta. Dalam hadits lain, Dajjal diumpamakan seperti Ibnu Sayyad. Ini adalah petunjuk tegas bahwa "kebutaan" Dajjal bukanlah kebutaan fisik. Lebih lanjut, hadits lain menegaskan makna kiasan ini dengan menyebutkan bahwa di kening Dajjal tertulis "KA-FA-RA" (ك ف ر)—yang bermakna tertutup atau kafir—dan tulisan itu dapat dibaca oleh siapa pun, baik yang bisa baca-tulis maupun tidak. Ini semakin mengukuhkan bahwa yang dimaksud adalah kebutaan maknawi, bukan inderawi.
*Makna Buta Mata: Antara Fisik dan Batin*
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Dajjal yang buta pada salah satu matanya jika itu adalah kiasan? Allah SWT memberikan penjelasan yang sangat mendalam dalam QS Al-Hajj ayat 46:
"Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami, atau telinga mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada."
Ayat ini menegaskan bahwa pada diri manusia terdapat dua jenis "mata": mata fisik yang menangkap cahaya dan bentuk, serta mata batin yang tertanam di dalam hati. Mata batin inilah yang sesungguhnya menentukan kemampuan seseorang untuk melihat kebenaran, mengenali Tuhan, dan membedakan antara petunjuk dan kesesatan.
Dengan demikian, Dajjal adalah algoritma kejahatan sempurna yang membuat manusia buta mata hatinya. Ia tidak merusak penglihatan fisik, melainkan merusak persepsi spiritual. Manusia yang terkena pengaruh Dajjal tetap dapat melihat dunia dengan mata kepalanya, namun hatinya gelap dan tidak mampu lagi menangkap cahaya kebenaran. Ia akan melihat kebatilan sebagai kebenaran, dan kebenaran sebagai kebatilan.
*Dajjal sebagai Algoritma Kejahatan yang Berevolusi
Memahami Dajjal sekadar sebagai sosok fisik dengan mata sipit dan tubuh besar adalah pemahaman yang terlalu sempit. Allah SWT dalam QS Al-An'am ayat 112 memberikan ilustrasi yang lebih komprehensif:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari kalangan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)."
Ayat ini menggambarkan bahwa algoritma kejahatan Dajjal telah tertanam dan tumbuh sejak awal zaman—sejak zaman Nabi Adam AS. Ia terus berevolusi dan memengaruhi kehidupan manusia dan jin melalui bisikan-bisikan indah yang membungkus kebatilan dengan kemasan menarik. Sistem kejahatan ini tidak statis; ia berkembang seiring perkembangan peradaban, teknologi, dan cara berpikir manusia.
Dampak dari algoritma kejahatan ini diilustrasikan lebih lanjut dalam QS Al-An'am ayat 122:
"Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu ia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat, sama dengan orang yang keadaannya berada dalam kegelapan, tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah kami jadikan orang-orang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan."
Di sinilah letak bahaya Dajjal yang sesungguhnya: ia mampu membuat manusia yang berada dalam kegelapan merasa bahwa dirinya berada dalam terang. Ia membuat keburukan tampak baik, dan kebaikan tampak buruk. Inilah puncak dari "kebutaan mata hati"—ketika seseorang tidak hanya gagal melihat kebenaran, tetapi justru meyakini bahwa kebatilan yang ia ikuti adalah kebenaran mutlak.
*Dajjal, Yajuj Makjuj, dan Koneksi Yerusalem*
Memasuki babak akhir zaman, algoritma kejahatan Dajjal semakin lengkap dan canggih. Nilai-nilai yang dihasilkannya akan diserap oleh perusak akhir zaman, yakni Yajuj wa Makjuj. Dua kelompok besar ini menjadi instrumen penyebaran fitnah Dajjal dalam skala global.
Yang menarik adalah koneksi antara Dajjal, Yajuj Makjuj, dan Yerusalem. Kota suci yang dirindukan oleh kaum Yahudi untuk kembali berkuasa ini menjadi pusat gravitasi eskatalogi Islam. Penantian Yahudi akan seorang Al-Masih (yang menurut keyakinan mereka akan memulihkan kejayaan) justru bertemu dengan kemunculan Al-Masih Dajjal—sosok palsu yang akan menebar teror menakutkan di akhir zaman.
Pada titik inilah kita dapat memahami bahwa Al-Masih Dajjal yang sesungguhnya akan muncul dari wilayah Yerusalem, hingga tibanya Al-Masih yang asli, yakni Nabi Isa AS, yang turun untuk membongkar kebohongan Dajjal dan membawa kembali cahaya kebenaran. Pertarungan antara dua "Al-Masih"—yang satu palsu dan yang satu benar—menjadi klimaks sejarah manusia.
*Pesan Tentang Dajjal di Arafah Pada Haji Wada: Kewaspadaan Umat di Ambang Akhir Zaman*
Oleh: Salas Aly Temur
*Poin-Poin Penting Pesan Rasulullah tentang Dajjal Dari Arafah
Makna Buta Mata: Antara Fisik dan Batin
Dajjal sebagai Algoritma Kejahatan yang Berevolusi
Refleksi di Hari Arafah
Pada momentum hari Arafah, 9 Dzulhijjah, marilah kita melihat secara utuh tausiyah Rasulullah SAW saat Haji Wada. Di tengah lautan manusia yang berhimpun, Nabi tidak hanya mengingatkan tentang ibadah dan muamalah, tetapi juga menghadirkan kesadaran tentang bahaya serangan Al-Masih Dajjal di akhir zaman. Ini bukan sekadar informasi teologis yang jauh dari realitas, melainkan peringatan yang semakin relevan dengan kondisi kontemporer.
Di era informasi yang banjir dengan "bisikan-bisikan indah" dari berbagai arah—media sosial, kecerdasan buatan, propaganda politik, dan hedonisme ekonomi—kita sedang menyaksikan bagaimana algoritma kejahatan Dajjal bekerja dengan lebih canggih dari sebelumnya. Manusia dibuat buta mata hatinya oleh gemerlap dunia digital, oleh narasi-narasi yang membungkus kebatilan dengan kata-kata indah, oleh sistem nilai yang menggantikan posisi Tuhan sebagai sumber kebenaran.
Maka, pesan Haji Wada tentang Dajjal adalah seruan untuk menjaga mata hati. Sebab selamat dari fitnah Dajjal bukanlah soal menghafal ciri-ciri fisiknya, melainkan memastikan bahwa hati kita tetap terang oleh cahaya iman, mampu membaca tulisan "KA-FA-RA" di kening setiap sistem kejahatan yang mengaku sebagai Tuhan. Wallahu a'lam.
9 Dzulhijjah 1447