Oleh KH Bachtiar Nasir
Musibah-musibah muncul bisa karena dari keinginan-keinginan yang belum terkabulkan dan kita kecewa. Inilah bagian dari musibah pada diri kita.
Kadang kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi dan cintai, dan itu membuat kita kecewa dan sedih.
Kita perlu belajar, bagaimana cara Nabi Ibrahim melepaskan yang paling dicintai.
Dalam surah Ash-Shaffat ayat 102-107 dikisahkan bagaimana ujian keimanan Nabi Ibrahim terhadap putra yang dicintainya yang harus dia kurbankan semata-mata karena ketaatan kepada Allah.
Surah Ash-Shaffat ayat 102-107:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ١٠٧
Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah), Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.
Ayat-ayat tersebut menggambarkan ujian keimanan manusia terhadap apapun yang paling dicintai.
Betapa Nabi Ibrahim Alaihissalam harus melepaskan yang dia sayangi. Yang ditinggalkan Nabi Ibrahim adalah keluarganya yang dia cintai dan sayangi.
Ketika Allah menganugerahi Ismail. Dari sinilah ujian datang ketika cinta kepada putranya begitu kuat. Allah memerintahkan untuk mengurbankannya.
Perintah datang melalui mimpi (ayat 102). Ini adalah isyarat, dan Ibrahim tidak bertanya-tanya, melainkan langsung melaksanakan perintah Allah yang datang lewat mimpi itu.
Ismail pun karena sudah mendapatkan pendidikan atau tarbiyah yang sangat baik dari kedua orang tua, tanpa ragu menyambut perintah Allah. Ismail mampu bersabar dengan ujian ini
Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail ini bukan hanya soal ketaatan. Tetapi ada adab dan keridhoan yang mendalam pada diri keduanya yang dibarengi dengan ketaatan kepada Allah.
“Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah)”. Di titik ini ujian selesai.
Allah tidak membutuhkan darah dan fisik, tetapi Allah menilai bagaimana ketertundukkan hamba kepada-Nya.
Setiap kita memiliki “ismail-ismail” yang paling kita cintai, dan semua itu hanya titipan dan ujian. Allah mengujinya siapa yang ikhlas dan penuh ridha.