Melalui sinergi antara pembinaan sekolah, dukungan program beasiswa, dan pendidikan tinggi, diharapkan semakin banyak santri memperoleh kesempatan mengembangkan potensi diri
BOGOR UMMATTV .COM – Perjalanan Azis Husaini Saputra dari santri SMA Qur’an Wahdah Islamiyah (SQ Wahdah) Cibinong, Bogor, hingga menjadi pengajar Bahasa Inggris di sekolah tempatnya dahulu menimba ilmu menjadi kisah inspiratif tentang pentingnya pendidikan berkelanjutan.
Azis sapaanya merupakan salah satu santri yang memperoleh kesempatan melanjutkan studi melalui jalur beasiswa pada 2021. Bersama seorang santri lainnya dari Cibinong, ia menempuh pendidikan S1 di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor.
Empat tahun kemudian, pada 2025, Azis berhasil menyelesaikan studinya dan mengikuti wisuda. Kini, ia kembali ke lingkungan pendidikan yang membesarkannya untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong.
Menjaga Hafalan di Tengah Kesibukan Kuliah
Memasuki dunia perkuliahan menjadi pengalaman baru bagi Azis. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan pertemanan dan kemampuan akademik mahasiswa yang beragam.
Menurutnya, salah satu tantangan saat kuliah adalah menyesuaikan diri dengan teman-teman yang memiliki tingkat penguasaan Bahasa Inggris berbeda. Namun, kondisi tersebut justru menjadi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri.
Di tengah kesibukan perkuliahan, Azis juga berusaha menjaga hafalan Al-Qur’an melalui kegiatan murajaah secara mandiri.
“Alhamdulillah, saya bisa menyesuaikan antara perkuliahan dan program mandiri, yaitu murajaah hafalan Al-Qur’an,” ungkapnya.
Ia juga memanfaatkan gawai untuk menunjang pembelajaran. Melalui perangkat tersebut, Azis mencari berbagai sumber belajar tambahan yang belum diperolehnya ketika masih duduk di bangku sekolah.
Pengalaman ini memperlihatkan pentingnya kemandirian belajar dan pemanfaatan teknologi dalam mendukung keberhasilan studi mahasiswa.
Dukungan Dosen dan Orang Tua Menjadi Penguat
Selain beradaptasi secara akademik, Azis mengakui bahwa membangun interaksi dengan lingkungan perkuliahan juga menjadi tantangan tersendiri. Seiring berjalannya waktu, ia mulai terbiasa berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan teman-temannya, dengan tetap menjaga batasan dalam pergaulan sesuai nilai-nilai Islam.
Dalam perjalanannya menyelesaikan studi, dukungan dosen, khususnya dosen pembimbing, menjadi salah satu faktor yang menguatkan semangatnya.
Ia mengingat bagaimana para dosen terus memberikan arahan dan mengingatkannya agar bersemangat menyelesaikan perkuliahan tepat waktu. Motivasi dari orang tua juga menjadi dorongan besar untuk menuntaskan pendidikan sarjana.
Bagi Azis, keberhasilan menyelesaikan studi bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang menunaikan harapan orang tua dan memanfaatkan kesempatan pendidikan yang telah diberikan.
Dari Penerima Beasiswa Menjadi Pengajar
Azis mengungkapkan rasa syukurnya karena memperoleh kesempatan kuliah melalui program yang difasilitasi YPWI. Kesempatan tersebut membuka jalan baginya untuk mengenyam pendidikan tinggi sekaligus mempersiapkan diri menjadi pendidik.
Kini, ilmu yang diperolehnya selama kuliah dapat diterapkan secara langsung ketika mengajar Bahasa Inggris di SMA Qur’an Wahdah Islamiyah Cibinong.
Pengalaman Azis menjadi gambaran keberlanjutan pendidikan: dari pembinaan di sekolah, kesempatan menempuh pendidikan tinggi, hingga kembali memberikan kontribusi kepada lingkungan yang dahulu mendidiknya.
Ia menilai program beasiswa semacam ini sangat membantu para santri untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang memperhatikan nilai-nilai Islam dan adab.
Kisah Azis sekaligus menjadi pengingat bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka jalan bagi lahirnya generasi pendidik yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga membawa nilai-nilai yang telah ditanamkan sejak di bangku sekolah.
Melalui sinergi antara pembinaan sekolah, dukungan program beasiswa, dan pendidikan tinggi, diharapkan semakin banyak santri memperoleh kesempatan mengembangkan potensi diri dan kembali berkontribusi bagi pendidikan umat.