Kiai Zaitun Rasmin: Ukhuwah Jangan Berhenti pada Silaturahmi, Harus Menjadi Kekuatan Peradaban

Kiai Zaitun Rasmin: Ukhuwah Jangan Berhenti pada Silaturahmi, Harus Menjadi Kekuatan Peradaban

Ustadz Zaitun : “Ukhuwah yang kuat seharusnya melahirkan kolaborasi. Dan kolaborasi itulah yang akan menjadi kekuatan umat dalam membangun peradaban.” 


JAKARTA — Ketua Bidang Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. KH. Muhammad Zaitun Rasmin, Lc., M.A., mendorong organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk mengembangkan ukhuwah dari sekadar hubungan persaudaraan menjadi kekuatan kolektif dalam membangun peradaban.


Gagasan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam materi yang dibawakannya pada kegiatan Silaturahmi Ormas Islam yang diselenggarakan MUI Provinsi DKI Jakarta, Kamis (5/11/2026), dengan tema *“Menjalin Silaturrahmi, Menautkan Hati”*.


Dalam pemaparannya yang bertajuk *“Merajut Ukhuwah, Menguatkan Umat Menuju Jakarta Kota Global”*, Kiai Zaitun mengangkat gagasan *ukhuwah peradaban*, yakni persaudaraan yang berkembang menjadi kekuatan untuk menghadirkan kemajuan dan kemaslahatan bersama.


“Ukhuwah jangan hanya berhenti pada silaturahmi, saling mengenal, dan menjaga hubungan baik. Persaudaraan harus kita tingkatkan menjadi kekuatan bersama untuk membangun umat dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Kiai Zaitun.


Menurutnya, umat Islam memiliki potensi yang sangat besar melalui beragam organisasi, lembaga pendidikan, pesantren, lembaga zakat, jaringan ekonomi, dan lembaga pelayanan sosial.


Namun, potensi tersebut tidak akan menghasilkan kekuatan yang optimal apabila berjalan sendiri-sendiri tanpa komunikasi dan kolaborasi yang baik.


“Kita memiliki banyak organisasi dengan keunggulannya masing-masing. Ada yang kuat dalam pendidikan, ada yang unggul dalam dakwah, ekonomi, dan pelayanan sosial. Tidak semua harus mengerjakan hal yang sama. Yang diperlukan adalah bagaimana seluruh potensi itu bisa saling menopang,” jelasnya.


Kiai Zaitun mengingatkan bahwa Al-Qur'an telah memberikan landasan yang sangat kuat bagi kerja sama dalam kebaikan, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Maidah ayat 2 yang memerintahkan umat untuk saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan.


Karena itu, perbedaan metode, struktur, dan tradisi organisasi semestinya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam berbagai agenda strategis umat.


Lebih jauh, ia menguraikan tujuh pilar yang perlu diperkuat dalam membangun ukhuwah peradaban, meliputi iman dan akhlak, ilmu dan pendidikan, ekonomi dan kemandirian, kesehatan dan kesejahteraan, kepemimpinan dan tata kelola, media dan teknologi, serta kemanusiaan dan kerja sama global.


Ketujuh pilar tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa pembangunan umat harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak terbatas pada peningkatan aktivitas keagamaan semata.


“Kita tidak cukup hanya memiliki banyak masjid jika pendidikan masih tertinggal. Tidak cukup memiliki banyak lembaga dakwah jika ekonomi umat masih lemah. Kita juga tidak cukup memiliki banyak kader jika belum mampu melahirkan pemimpin yang kompeten dan amanah,” tegasnya.


Ia berharap forum silaturahmi antarormas Islam tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi pintu masuk bagi lahirnya kerja sama yang nyata.


“Ukhuwah yang kuat seharusnya melahirkan kolaborasi. Dan kolaborasi itulah yang akan menjadi kekuatan umat dalam membangun peradaban,” pungkasnya.


Gagasan ukhuwah peradaban tersebut menjadi semakin relevan dalam konteks Jakarta yang tengah bertransformasi menuju kota global, di mana umat Islam diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam pembangunan yang berkeadilan dan berkeadaban.

Sebelumnya :