Keteladanan Ibrahim AS (2): Kesulitan Yang Membawa Keberkahan

Keteladanan Ibrahim AS (2): Kesulitan Yang Membawa Keberkahan

Kesabaran dan kejujuran itulah yang menjadi fondasi bagi serangkaian kesulitan yang justru melahirkan keberkahan abadi

Oleh: Salas Aly Temur



Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bukanlah sekadar cerita masa lalu. Ia adalah sungai yang terus mengalir, membasuh jiwa-jiwa yang haus akan keteladanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan namanya dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang jujur dan penyabar. Dalam Surah Ash-Shaffat ayat 101-102, Allah berfirman (artinya): "Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail). 

Maka ketika anak itu sampai (pada usia) berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'

Kesabaran dan kejujuran itulah yang menjadi fondasi bagi serangkaian kesulitan yang justru melahirkan keberkahan abadi—dari ritual haji hingga lahirnya Nabi terakhir, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perintah Pergi: Meninggalkan Ketenangan Menuju Padang Tandus


Allah memerintahkan Ibrahim, Hajar, dan Ismail untuk meninggalkan Bumi Syam (Palestina dan sekitarnya) yang subur. Mereka bermigrasi ke lembah tandus yang kelak menjadi kota Makkah. Tidak ada air, tidak ada tanaman, hanya bukit pasir dan batu cadas. Secara akal, ini adalah tindakan yang mustahil untuk bertahan hidup. Namun kepasrahan total kepada Allah menjadikan setiap langkah sulit itu sebagai benih keberkahan.

Pelajaran Awal: Dari Mesir Menuju Hajar


Perjalanan keberkahan dimulai jauh sebelumnya, saat Nabi Ibrahim dan istrinya, Sarah, berhijrah ke Mesir akibat kekeringan dahsyat di Syam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits riwayat Muslim nomor 4371 mengisahkan secara panjang lebar apa yang terjadi di negeri Nil itu.


Sesampainya di Mesir, mereka berhadapan dengan seorang raja yang zalim. Raja itu dikenal "nakal": setiap melihat wanita cantik, ia akan membunuh suaminya lalu memiliki wanita tersebut. Sarah memiliki kecantikan yang luar biasa. Maka Ibrahim pun bersiasat dengan tauriyyah (berkata tidak terus terang) untuk menyelamatkan diri. Ketika ditanya, Sarah harus mengaku bahwa Ibrahim adalah saudaranya, bukan suaminya.


*Ujian Sarah dan Pertolongan Allah*


Sarah digelandang menghadap raja. Ibrahim hanya bisa berdoa dan bersabar, sambil menanti pertolongan Allah. Ketika raja hendak memegang Sarah, tangan sang raja menjadi kaku—tidak bisa digerakkan. Raja itu ketakutan dan memohon kepada Sarah untuk mendoakannya kepada Tuhannya agar sembuh. Sarah berdoa, dan Allah sembuhkan.

 Namun raja itu mengulangi niat jahatnya hingga tiga kali. Setiap kali, hukumannya lebih berat. Akhirnya, raja itu sadar bahwa Sarah dilindungi oleh kekuatan yang luar biasa. Ia pun menghentikan usahanya, menghormati Sarah, dan memberikan berbagai hadiah serta seorang pelayan dari keluarga istana bernama Hajar.


*Hajar: Dari Pelayan Menjadi Ummu Ismail*


Ibrahim dan Sarah kembali ke Syam, membawa Hajar sebagai ikatan persahabatan dengan raja Mesir. Namun ujian belum usai. Sarah ternyata mandul. Dengan jiwa yang besar, ia mempersilakan Ibrahim untuk memperistri Hajar. Maka Hajar pun menjadi istri nabi. Dari pernikahan ini lahirlah Ismail ‘alaihis salam—anak yang sangat sabar dan kelak menjadi nabi pula.


*Kesabaran Ibrahim dan Hajar di Lembah Tandus*


Titik puncak kesabaran terjadi saat Ibrahim diperintahkan Allah untuk meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah yang gersang. Hajar yang setia tidak protes. Ia hanya bertanya, "Apakah ini perintah Allah?" Ibrahim menjawab, "Ya." Maka Hajar pun berkata, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."


Kesabaran Hajar melahirkan ritus sa'i—berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah—yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ibadah haji. Kesabaran Ibrahim melahirkan syariat kurban dan ibadah haji itu sendiri. Dan kesabaran Ismail melahirkan ketundukan total ketika ia bersedia disembelih demi perintah Allah.


*Pelajaran Umat Akhir Zaman: Kesulitan Membawa Kemudahan*


Apa yang bisa kita petik dari kisah panjang ini—dari interaksi dengan raja Mesir yang zalim, dari pengkhianatan akal sehat di lembah tandus, dari doa yang tak kunjung terjawab hingga air zamzam memancar?


Pertama, ketika hidup di bawah penguasa yang jahil dan zalim, jalan keluarnya bukanlah melawan dengan kebodohan serupa, tetapi dengan bersandar dan bertawakal kepada Allah semata. Ibrahim tidak mengangkat senjata melawan raja Mesir; ia mengangkat doa.


Kedua, setiap kesulitan jika dihadapi dengan kesabaran dan menjaga nilai-nilai kebenaran, niscaya Allah akan membukakan kemudahan dan keberkahan yang melampaui kesulitan itu. Allah menegaskan dalam Surah Az-Zumar ayat 10 (artinya): "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas." Dan dalam Surah Alam Nasyrah (Surat Al-Insyirah) ayat 5-6: "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Perhatikan, Allah menggunakan kata "kesulitan" dalam Benton tunggal, tetapi "kemudahan" dalam bentuk ganda yang diulang dua kali. Artinya: satu kesulitan pasti dibalas dengan dua kemudahan.

Penutup: Lahirnya Peradaban Spiritual Untuk Ummat Akhir Zaman

Kesabaran Ibrahim, Sarah, Hajar, dan Ismail tidak sia-sia. Dari benih kesulitan di lembah tandus, Allah tumbuhkan air zamzam. Dari air zamzam, lahir desa yang berkembang menjadi Kota Makkah. Dari Makkah, terpancarlah cahaya kenabian yang puncaknya adalah kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam—dari keturunan Ismail. Inilah keberkahan yang tiada tepi. Setiap muslim yang berhaji dan berumroh hingga akhir zaman, setiap orang yang minum air zamzam, setiap orang yang berlari sa'i, mereka semua adalah buah dari kesabaran keluarga agung ini.

Maka ketika kesulitan datang menghampiri kita, ingatlah kisah Ibrahim. Jangan berkeluh kesah. Mungkin saja kesulitan itu sedang memproses kita menjadi saluran keberkahan bagi seluruh umat manusia.


Wallahu a’lam.


05 Dzulhijjah 1447

Sebelumnya :