Kematian adalah kepastian, sedangkan waktunya merupakan rahasia Allah. Kesadaran terhadap kepastian itu seharusnya mendorong setiap orang untuk tidak terlena oleh dunia
Bogor – Kematian merupakan kepastian bagi setiap makhluk hidup. Dalam ceramah di Masjid Al-I’tisham, Bogor, Ustaz Dr. Mulyadi Qosim mengingatkan umat Islam agar tidak terlena oleh kehidupan dunia dan mempersiapkan diri sebelum ajal tiba.
Dunia Tidak Kekal
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Ar-Rahman ayat 26–27:
“Semua yang ada di atasnya (bumi) itu akan binasa. Namun, zat Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa harta, jabatan, kesehatan, dan berbagai kenikmatan dunia tidak akan bertahan selamanya. Hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang Mahakekal. Karena itu, kehidupan dunia seharusnya tidak membuat manusia terlena, melainkan mendorongnya untuk memanfaatkan waktu dengan beramal.
Setiap yang Bernyawa Akan Mati
Kepastian kematian berlaku bagi seluruh makhluk hidup. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185 dan Surah Al-Anbiya ayat 35 bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.
Kematian tidak membedakan usia, kondisi ekonomi, jabatan, maupun kesehatan. Seseorang dapat meninggal dalam usia muda, saat sehat, atau setelah lama sakit. Karena itu, manusia tidak sepatutnya merasa masih memiliki banyak waktu. Tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan hidupnya berakhir.
Kematian Tidak Dapat Dihindari
Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 8, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan bahwa kematian yang dihindari manusia pasti akan menemuinya. Setelah itu, manusia dikembalikan kepada Allah dan dimintai pertanggungjawaban atas amalnya.
Pesan serupa terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 78. Di mana pun berada, manusia tetap akan dijangkau kematian, sekalipun berlindung di benteng yang kokoh. Menjaga kesehatan dan menghindari bahaya merupakan ikhtiar, tetapi tidak dapat mengubah ketetapan Allah ketika ajal telah tiba.
Ajal Tidak Dapat Ditunda
Surah Al-Munafiqun ayat 11 menegaskan bahwa Allah tidak akan menangguhkan ajal seseorang ketika waktunya telah tiba. Ayat ini mengingatkan bahwa kesempatan hidup memiliki batas dan tidak dapat diulang.
Oleh sebab itu, manusia hendaknya tidak menunda kebaikan dengan alasan masih memiliki banyak waktu. Selama masih diberi kehidupan, setiap orang perlu segera memperbanyak amal saleh, beristigfar, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan menunaikan kewajiban kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Mempersiapkan Diri dengan Amal Saleh
Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk memanfaatkan kehidupan sebelum kematian. Menjalani kehidupan dunia bukan berarti melupakan akhirat, melainkan menggunakan setiap kesempatan untuk beribadah dan berbuat baik.
Setiap Muslim hendaknya memperkuat keimanan, menjaga salat, memperbanyak amal saleh, menjauhi kemaksiatan, menunaikan amanah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. Amal-amal tersebut menjadi bekal yang dipersiapkan selama hidup sebelum manusia kembali kepada Allah.
Kematian adalah kepastian, sedangkan waktunya merupakan rahasia Allah. Kesadaran terhadap kepastian itu seharusnya mendorong setiap orang untuk tidak terlena oleh dunia dan segera mempersiapkan diri dengan amal saleh.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan husnul khatimah, menerima amal ibadah, mengampuni dosa, dan menjadikan sisa umur sebagai kesempatan untuk memperbanyak kebaikan. Aamiin.