Saat ini, kita sedang menyaksikan bagaimana perilaku perusak zaman yang membawa identitas Yahudi sebagai bagian dari Bani Israel.
Oleh : Salas Aly Temur
5 Syawal 1447
(Peringatan Bagi Zionist dan Trump)
Sejarah peradaban manusia selalu mencatat siklus yang sama: munculnya penguasa yang melampaui batas, diikuti oleh kehancuran yang menyisakan pelajaran bagi umat manusia. Al-Qur’an, sebagai kitab petunjuk, telah mengabadikan kisah ini dalam berbagai surat, salah satunya adalah kisah tentang Firaun. Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan sebuah pola (sunnatullah) yang berulang. Allah Swt. menegaskan dalam QS. Al-Fajr ayat 6-14 bahwa kehancuran kaum ‘Ad, Tsamud, dan Firaun yang memiliki pasak-pasak (kekuatan) yang kokoh bukanlah kejadian tanpa pesan. Pesan utamanya adalah untuk menyentuh orang-orang yang beriman agar tidak berputus asa. Sebesar apa pun arogansi penguasa yang jauh dari nilai-nilai rabbani, bahkan yang secara terang-terangan melawan nilai-nilai tersebut, mereka tetaplah berada dalam genggaman kekuasaan Allah.
Salah satu titik penting yang perlu direnungkan adalah bahwa sekuat apa pun kekuatan yang dibangun manusia—secanggih apa pun teknologi, senjata, dan propaganda yang dimilikinya—semuanya berada dalam pengawasan Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang luput dari pengawasan-Nya. Bagi Allah, melumpuhkan penguasa yang membuat kerusakan (fasad) di muka bumi adalah perkara yang mudah. Keyakinan ini seharusnya menjadi fondasi optimisme bagi umat yang tertindas, bahwa keadilan pasti akan ditegakkan meskipun terkadang butuh waktu.
Para ulama tafsir umumnya mengungkapkan bahwa “fasad” yang dimaksud dalam Al-Qur’an memiliki akar yang dalam. Fasad tidak lahir begitu saja; ia berawal dari kerusakan dalam keyakinan (akidah). Ketika keyakinan seorang penguasa atau suatu bangsa rusak—misalnya menihilkan kekuasaan Allah, merasa diri yang paling berkuasa, kebenaran mutlak ada pada dirinya, dan tidak ada otoritas yang lebih tinggi yang mengawasinya—maka lahirlah mentalitas perusak. Mentalitas ini kemudian menciptakan tingkah laku fasad yang dianggap wajar, yang puncaknya adalah penindasan dan kesewenang-wenangan terhadap makhluk Allah lainnya.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di masa lalu. Di era kita hari ini, kita menyaksikan perilaku-perilaku yang mencerminkan arogansi Firauniah secara gamblang. Perilaku Donald Trump dan Benjamin Netanyahu adalah contoh konkret yang sulit diabaikan. Kesewenang-wenangan dalam mengelola negara yang merasa paling canggih dan paling digdaya terlihat jelas dalam retorika dan kebijakan mereka. Ucapan-ucapan arogan yang keluar dari mereka bukan sekadar retorika politik, tetapi cerminan keyakinan, mental dan kesombongan struktural.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketika arogansi ini membawa-bawa nama agama untuk melegitimasi kekerasan dan penindasan. Baru-baru ini, Netanyahu melontarkan pernyataan yang melecehkan Nabi Isa ‘alaihis salam, menyebutnya sebagai sosok yang “kalah” dibandingkan Jenghis Khan dalam membawa kaumnya. Secara implisit, pernyataan ini hendak menyampaikan bahwa untuk menguasai dunia, perilaku biadab seperti yang dilakukan Jenghis Khan adalah sesuatu yang wajar, bahkan perlu ditiru. Ini adalah bentuk arogansi yang sangat berbahaya karena membelokkan nilai-nilai ketuhanan untuk menciptakan pembenaran atas kekerasan.
Padahal, jika merujuk pada agama yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihis salam—yaitu Yahudi yang sejati—tidaklah mengajarkan perilaku seperti itu. Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam, ketika menjadi penguasa adidaya dunia, tidak membangun kekuasaan dengan kesewenang-wenangan. Al-Qur’an menggambarkan mereka sebagai penguasa yang penuh keshalehan, yang kekuasaannya digunakan untuk menegakkan keadilan, mengelola alam dengan bijak, dan menyembah Allah. Lalu, bagaimana mungkin seorang penguasa di era modern mengklaim membawa warisan kenabian namun justru meneladani Jenghis Khan?
Demikian pula dengan Donald Trump. Di masa pemerintahannya cenderung mengamini semua keinginan zionist, ia menunjukkan sikap meremehkan berbagai perilaku timpang, seperti yang dilakukan oleh Jeffrey Epstein sang agen Mossad yang telah berbuat kriminal skala global. Bahkan, Jaksa Agung Amerika Serikat, Pam Bondi, cenderung menunjukkan sikap melindungi arsip-arsip yang seharusnya dibuka ke publik, menghalangi terungkapnya kejahatan. Ini menunjukkan bahwa sistem yang dibangun di atas arogansi dan jauh dari nilai rabbani akan cenderung melindungi para perusak, bukan korban.
Saat ini, kita sedang menyaksikan bagaimana perilaku perusak zaman yang membawa identitas Yahudi sebagai bagian dari Bani Israel telah mengulang pola sejarah yang sama. Allah Swt. telah memberikan peringatan keras dalam QS. Al-A’raf ayat 167, yang artinya: _“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”_
Ayat ini adalah janji Allah bahwa ketika suatu kaum—terutama yang mengaku membawa warisan agama—berperilaku jahat dan melakukan kerusakan (fasad) di muka bumi, bahkan membawa-bawa nama agama untuk membenarkan kedzaliman, maka Allah akan memunculkan lawan yang mampu mempermalukan mereka. Saat ini, kita melihat bagaimana aliansi Iran, Rusia, dan China, atas izin Allah, mulai bergerak dalam poros perlawanan terhadap hegemoni yang zalim. Kehadiran mereka bukan sekadar geopolitik, tetapi merupakan manifestasi dari sunatullah yang telah dijanjikan.
Akhirnya, kisah runtuhnya kekuasaan Firaun harus menjadi pelajaran abadi bahwa kekuasaan yang dibangun di atas arogansi, kebohongan, dan penindasan tidak akan pernah bertahan. Hanya kekuasaan yang dibangun di atas nilai-nilai rabbani, keadilan, dan ketaatan kepada Allah-lah yang akan mendapatkan ketenangan dan keabadian. Bagi orang-orang yang beriman, ini adalah penguat hati bahwa di balik kesewenang-wenangan yang tampak menggila, Allah selalu menyiapkan kehancuran bagi para pembuat fasad, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Wallah A'lam