Jejak yang Tertinggal di Waktu Shubuh Bersama Prof Chairil Anwar Rahimahullah

Jejak yang Tertinggal di Waktu Shubuh Bersama Prof Chairil Anwar Rahimahullah

Ikbal : "Insya Allah, Kita semua tidak kehilangan beliau. Kita hanya kehilangan kehadiran fisiknya. Sebab ilmu, keteladanan, dan ayat-ayat yang ia ajarkan.."

Rindu kepada Prof Chairil Anwar Siregar


Dr. Mohammad Iqbal 


Ada orang-orang yang kehadirannya tidak sekadar mengisi ruang, tetapi juga mengisi jiwa. Ia hadir tanpa suara yang menggemparkan, namun kepergiannya meninggalkan gema yang panjang, menyentuh relung hati yang paling dalam. Begitulah kiranya bila kita mengenang sosok seorang guru, sahabat, sekaligus tetangga—sebuah peran yang jarang terhimpun dalam satu pribadi secara utuh. Ia adalah Prof. Ir. Chairil Anwar Siregar, Ph.D., yang telah kembali kepada Penciptanya, meninggalkan kita dalam sunyi yang sarat pelajaran.

Sisipkan gambar ...

Setiap akhir pekan, sebelum mentari meninggi, Mushalla Al I’tisham menjadi saksi bisu pertemuan kami. Di sana, selepas shalat Shubuh, kami membuka majelis kecil—bukan dengan kemegahan, melainkan dengan kehangatan. Beliau duduk bersama, bercengkerama tentang hutan, tentang karbon, tentang tanah gambut, bahkan tentang mimpi-mimpi sederhana yang lahir dari kecintaan pada alam dan umat. Dari lisannya, ilmu yang dahulu terasa berat menjadi ringan; ia mengalir seperti air jernih yang tidak pernah lelah memberi kehidupan.


Namun, yang lebih membekas bukanlah semata pengetahuannya. Ada kejenakaan yang khas, gaya tutur orang Medan yang blak-blakan namun tidak pernah menyakiti. Ada kelapangan dada untuk tertawa, sekaligus kesungguhan untuk merenung. Dan di antara semuanya, yang paling menyentuh adalah bagaimana ia selalu mengembalikan setiap pokok bahasan kepada sumber cahaya: ayat-ayat Allah dan hadits Rasul-Nya. Dengan suara yang merdu, ia melantunkan ayat-ayat itu, seolah mengajak kami sejenak meninggalkan dunia dan masuk ke dalam keheningan langit.

Sisipkan gambar ...

Ramadhan adalah waktu yang paling akrab dengan kehadirannya. Di keheningan dinihari, ia hadir, menunaikan shalat malam, biasanya beliau sendiri saja di kegelapan ruang bawah masjid. Bacaan Al-Qur’annya lamat-lamat terdengar tidak sekadar sampai di telinga, tetapi meresap ke dalam hati, mencairkan yang beku, menundukkan yang angkuh. 


Selepas shalat tarawih, Shalat Jum'at  atau shalat-shalat wajib di masjid Al i'tisham, kami biasa duduk ngariung sejenak di shaf pertama. Bukan untuk membahas hal-hal besar, tetapi sekadar berbincang—tentang hidup, tentang waktu, tentang harapan. Dan dalam kebersamaan sederhana itulah tersimpan keberkahan yang sering kali baru terasa setelah semua berlalu.

Sisipkan gambar ...

Ada satu hal yang sangat menyentuh dari kehidupannya di masa-masa terakhir. Ketika ia mulai terbiasa merekam bacaan Qur’annya lewat gawai sederhana, ia pun mengunggahnya ke dunia maya. Bukan demi pujian, bukan pula untuk pencitraan. Namun setiap unggahan selesai, ia mengirim pesan singkat: "pak RW, dengar bacaan Qur'an saya ya." Kini, rekaman-rekaman itulah yang menjadi pengobat rindu. Setiap kali diputar, seakan ia hadir kembali, mengimami hati yang sedang gelisah, melantunkan ayat demi ayat dengan suara yang tenang dan penuh penyerahan.


Pada hari-hari besar, shalat Idul Fitri dan Idul Adha di Al i'tisham, beliau selalu menjadi imam. Dari rumah, abi biasanya sudah menyiapkan sapu tangan—bukan sekadar untuk menyapu keringat, tetapi untuk menahan derai air mata yang selalu tumpah ketika bacaannya menyentuh kalbu. Bahkan sejak Al-Fatihah, jiwa seakan ditarik ke dimensi lain: dimensi ketundukan, kelembutan, dan cinta. Kini, suara itu tidak lagi terdengar di mimbar. Tahun ini, ia tidak lagi berdiri di hadapan kami sebagai imam. Sakit yang datang sejak Ramadhan lalu telah memanggilnya untuk beristirahat. Dan kini, ia telah berpulang.


Kontak kami tidak hanya di majelis atau di masjid, salah satunya termasuk dalam berolahraga bersama bulutangkis di lapangan Sawojajar di hari Sabtu atau Ahad pagi. Beliau juga termasuk pemain yang lihai di olahraga ini, walau di usia beliau ini beliau sendiri menyadari dan mengurangi kelincahan mengejar shuttlecock. Dan yang sering menambah kekaguman adalah beliau ternyata rutin menunaikan puasa nabi Daud, yang ketika tiba di harinya bersamaan dengan jadwal olahraga ini, beliau tidak membatalkan puasanya. Luar biasa, semoga Allah merahmati beliau.


Insya Allah, Kita semua tidak kehilangan beliau. Kita hanya kehilangan kehadiran fisiknya. Sebab ilmu, keteladanan, dan ayat-ayat yang ia ajarkan tetap hidup dalam diri setiap orang yang pernah menyimaknya. Ia pergi meninggalkan jejak yang tidak akan hilang oleh hujan, tidak akan lapuk oleh waktu. Dan dari kepergiannya, kita belajar bahwa setiap jiwa akan merasakan mati. Maka tidak ada yang lebih berharga selain menyiapkan bekal—bukan bekal dunia yang fana, tetapi bekal rindu yang panjang kepada Allah.


Semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni segala kekhilafannya, dan menempatkannya di taman-taman surga yang penuh kenikmatan. Semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam majelis yang lebih indah dari majelis dunia ini: majelis di sisi-Nya, dalam naungan rahmat dan ridha yang abadi.


Al-Fatihah.

Sebelumnya :